
Rumah adat ini bernama Tongkonan. Atapnya terbuat dari daun nipa
atau kelapa dan mampu bertahan sampai 50 tahun. Tongkonan ini juga
memiliki strata sesuai derajat kebangsawanan masyarakat seperti strata
emas, perunggu, besi dan kuningan.
Selain upacara adat rambu solo (pemakaman) yang sudah kesohor selama
ini di Tana Toraja. Ada juga kuburan bayi di atas pohon tarra di
Kampung Kambira, Kecamatan Sangalla, sekitar 20 kilometer dari
Rantepao, yang disiapkan bagi jenazah bayi berusia 0 - 7 tahun.

Meski mengubur bayi di atas pohon tarra itu sudah tidak dilaksanakan
lagi sejak puluhan tahun terakhir, tetapi pohon tempat “mengubur” mayat
bayi itu masih tetap tegak dan banyak dikunjungi wisatawan. Di atas
pohon tarra yang buahnya mirip buah sukun yang biasa dijadikan sayur
oleh penduduk setempat itu dengan lingkaran batang pohon sekitar 3,5
meter, tersimpan puluhan jenazah bayi.
Sebelum jenazah dimasukkan ke batang pohon, terlebih dahulu pohon
itu dilubangi kemudian mayat bayi diletakkan ke dalam kemudian ditutupi
dengan serat pohon kelapa berwarna hitam. Setelah puluhan tahun,
jenazah bayi itu akan menyatu dengan pohon tersebut. Ini suatu daya
tarik bagi para pelancong dan untuk masyarakat Tana Toraja tetap
menganggap tempat tersebut suci seperti anak yang baru lahir.
Penempatan jenazah bayi di pohon ini juga disesuaikan dengan strata
sosial masyarakat. Makin tinggi derajat sosial keluarga itu maka makin
tinggi pula tempat bayi yang dikuburkan di batang pohon Tarra tersebut.
Bahkan, bayi yang meninggal dunia diletakkan sesuai arah tempat tinggal
keluarga yang berduka. Kalau rumahnya ada di bagian barat pohon, maka
jenazah anak akan diletakkan di sebelah barat.
Event menarik di kawasan wisata ini yaitu adanya upacara pemakaman
jenazah (rambu solo) dan rambu tuka (pesta syukuran) yang merupakan
kalender tetap tiap tahun. Selain event tersebut, para pengunjung bisa
melihat dari dekat obyek wisata budaya menarik lainnya seperti
penyimpanan jenazah di penampungan mayat berbentuk “kontainer” ukuran
raksasa dengan lebar 3 meter dan tinggi 10 meter serta tongkonan yang
sudah berusia 600 tahun di Londa, Rantepao.